Tentang
Senja dan Wanita Itu
Senja kali ini ditemani
asap rokok dan nyayian bising tanpa wujud. Bau alkohol masih tercium dari
mulut-mulut naga tanpa dosa. Hingar bingar akhir pekan, berubah menjadi godam
yang terlempar keras tepat kekepalaku. Aku ambruk seketika,tak lama aku
tersadar. Pusingbegitu terasa, ingin mati saja rasanya. Menyandarkan tubuh di
tembok balkon rasanya seperti mendapat angpao dari orang-orang Cina di samping
kanan kiri rumahku. Isinya tak banyak tapi kala itu sebelum reformasi, jadi
cukup untuk jajan satu minggu.
Semua terjadi begitu
cepat, tak ada waktu yang diberikan kepadaku untukmenghindar dari lemparan
godam itu. Aku berteriak tapi tak ada yang mendengar, semua seperti tak peduli
padaku. Sampai sebuah pengakuan dari wanita itu membuatku kuat untuk bangkit
berdiri sendiri. Tak peduli rasa sakit di kepalaku. Yang kurasa sekarang hanya
bahagia atas sebuah pengakuan wanita itu. Aku bahagia godam itu tak
menimpa kepalanya. Aku rayakan kebahagiaan ini secara sederhana dengan asap
sampai senja habis dimakan malam.
***
Kringgg....kringg....kring.... kulihat layar ponsel, senyum kecil mengembang dari bibirku yang dipenuhi
busa bir. Ini telpon dari wanita itu, sudah lama sekali dia baru menelponku.
“Haloo..sudah sehat?”
Aku terdiam, hanya
senyum-senyum. Aku butuh konsentrasi tinggi untuk menjawab, agar dia tak lantas
menutup telepon.
“Aku sedang sakit kepala,
dan rasanya tempurung kepalaku mau pecah”
Dia menjawab penuh
simpatik, menyarankan aku berobat, istrihat cukup, dan ini itu. Seketika dia
jadi ibu-ibu tua yang cerewet. Strategiku cukup berhasil membuat dia banyak
bicara tapi lama-lama bosan juga mendengar wanita yang terus bicara tanpa memberi
kesempatan lelakinya bicara.
Aku menyela saja langsung.
“Aku ingin bercinta
denganmu, Apa bisa kau kesini besok?”
“Bercinta? Tentu bisa”
Kemudian kami tawar
menawar waktu. Sampai pada sebuah kesepakatan. Dan dia bilang.
“Besok pagi aku sibuk,
mungkin agak sore aku kesana sebelum senja habis.”
“ya aku tunggu.”
Tuttt..tut..tuttt...Telpon terputus.
Tak sadar kaleng bir sudah
kosong, uang sudah menipis tak ada kaleng bir kedua. Ah, sial. Reformasi
bajingan!! Jenderal biadab!! Kuremas lalu kulempar kalengbir itu, berharap
kaleng itu jatuh di depan Istana Negara.
***
Senja keemasan secara malu-malu
muncul dari sela jendela, lalu merangkak dari celah bawah pintu. Aku selalu suka
senja tak peduli bagaimana caranya muncul. Dan karena itu, aku juga menyukai
sore, bukan siang atau malam tapi sore. Sore memberi ketenangan tak seperti siang
saat orang-orang ramai mencari uang, dan tak memberi ruang pada kebebasan. Atau
seperti malam ketika para pelacur sibuk menyajikan tubuh mereka dijalanan ibukota.
Waktu yang ditunggu tiba. Wanita itu datang. Dia menepati janjinya—ia datang sebelum
senja habis—.
“Kau bawa apa?” Tanyaku menyambut.
“Ini bir
dan sepotong roti isi.”
Dia selalu tau apa yang
aku suka. Sikapnya yang pengertian selalu membuatku seperti menjadi Raja,
selalu dilayani tanpa meminta, dikasihi dan dipuja. Betapa beruntungya aku.
Senja keemasan hampir hilang,
kala menarik cahayanya yang keemasan dari balik jendela dan celah bawah pintu. Wanita
itu datang menggunakan kaos ketat sehingga dadanya yang hampir tak terlihat kelihatan
menonjol, aku tak begitu peduli soal dada yang jelas aku menyukai dia seperti aku
menyukai sore. Lantas aku bernafsu, mengajaknya bercinta bukan perkara sulit. Kami
bercinta seperti anjing, kadang cacing. Ah, macam-macam pokoknya. Sore itu sore
yang paling menyenangkan, tentu saja menggairahkan. Mungkin ini sore yang
paling aku sukai diantara sore-sore yang aku temui bersamanya. Sekarang senja benar-benar
habis. Tak lama pernyataan meletup dari bibir basah wanita itu.
“Bercintalah sepuasnya,
hari ini kali terakhir kita bercinta.” katanya berbisik padaku.
Benar-benar sore yang brengsek!!!
-----------------------------------------------------o0o-----------------------------------------------------------