Selasa, 11 Desember 2012

Rambutmu Rontok Di Bantal

Waktu itu masih Januari
Telur di kamar mandi masih belum menetas
Kamar mandi yang airnya penuh kecebong
Dan bau airnya, seperti isi perut Jenderal
Rambutmu rontok 5 helai setiap hari,
Lalu hari berikutnya 5 helai lagi
Rambutmu rontok di bantal
Di bantal yang aku gunakan setiap kali aku tidur
Dan setiap kali aku tidur,
Hidungku kemasukan rambut
Dan setiap kali hidungku kemasukan rambut,
Aku mengumpat.
Dan setiap kali aku membersihkan rambutmu,
Besoknya ada lagi rambutmu yang rontok di bantal
Rambutmu rontok sampai bulan Juni
Dan sekarang kepalamu botak.
Ternyata--- sekarang bulan Desember.

Minggu, 02 Desember 2012

Tentang Senja dan Wanita Itu


Tentang Senja dan Wanita Itu


Senja kali ini ditemani asap rokok dan nyayian bising tanpa wujud. Bau alkohol masih tercium dari mulut-mulut naga tanpa dosa. Hingar bingar akhir pekan, berubah menjadi godam yang terlempar keras tepat kekepalaku. Aku ambruk seketika,tak lama aku tersadar. Pusingbegitu terasa, ingin mati saja rasanya. Menyandarkan tubuh di tembok balkon rasanya seperti mendapat angpao dari orang-orang Cina di samping kanan kiri rumahku. Isinya tak banyak tapi kala itu sebelum reformasi, jadi cukup untuk jajan satu minggu.
Semua terjadi begitu cepat, tak ada waktu yang diberikan kepadaku untukmenghindar dari lemparan godam itu. Aku berteriak tapi tak ada yang mendengar, semua seperti tak peduli padaku. Sampai sebuah pengakuan dari wanita itu membuatku kuat untuk bangkit berdiri sendiri. Tak peduli rasa sakit di kepalaku. Yang kurasa sekarang hanya bahagia atas sebuah pengakuan wanita itu.  Aku bahagia godam itu tak menimpa kepalanya. Aku rayakan kebahagiaan ini secara sederhana dengan asap sampai senja habis dimakan malam.
***
Kringgg....kringg....kring.... kulihat layar ponsel, senyum kecil mengembang dari bibirku yang dipenuhi busa bir. Ini telpon dari wanita itu, sudah lama sekali dia baru menelponku.
            “Haloo..sudah sehat?”
            Aku terdiam, hanya senyum-senyum. Aku butuh konsentrasi tinggi untuk menjawab, agar dia tak lantas menutup telepon.
            “Aku sedang sakit kepala, dan rasanya tempurung kepalaku mau pecah”
            Dia menjawab penuh simpatik, menyarankan aku berobat, istrihat cukup, dan ini itu. Seketika dia jadi ibu-ibu tua yang cerewet. Strategiku cukup berhasil membuat dia banyak bicara tapi lama-lama bosan juga mendengar wanita yang terus bicara tanpa memberi kesempatan lelakinya bicara.
            Aku menyela saja langsung.
            “Aku ingin bercinta denganmu, Apa bisa kau kesini besok?”
            “Bercinta? Tentu bisa”
            Kemudian kami tawar menawar waktu. Sampai pada sebuah kesepakatan. Dan dia bilang.
            “Besok pagi aku sibuk, mungkin agak sore aku kesana sebelum senja habis.”
            “ya aku tunggu.”
            Tuttt..tut..tuttt...Telpon terputus.
            Tak sadar kaleng bir sudah kosong, uang sudah menipis tak ada kaleng bir kedua. Ah, sial. Reformasi bajingan!! Jenderal biadab!! Kuremas lalu kulempar kalengbir itu, berharap kaleng itu jatuh di depan Istana Negara.
***
            Senja keemasan secara malu-malu muncul dari sela jendela, lalu merangkak dari celah bawah pintu. Aku selalu suka senja tak peduli bagaimana caranya muncul. Dan karena itu, aku juga menyukai sore, bukan siang atau malam tapi sore. Sore memberi ketenangan tak seperti siang saat orang-orang ramai mencari uang, dan tak memberi ruang pada kebebasan. Atau seperti malam ketika para pelacur sibuk menyajikan tubuh mereka dijalanan ibukota. Waktu yang ditunggu tiba. Wanita itu datang. Dia menepati janjinya—ia datang sebelum senja habis—.
            “Kau bawa apa?” Tanyaku menyambut.
“Ini bir dan sepotong roti isi.”
Dia selalu tau apa yang aku suka. Sikapnya yang pengertian selalu membuatku seperti menjadi Raja, selalu dilayani tanpa meminta, dikasihi dan dipuja. Betapa beruntungya aku.
Senja keemasan hampir hilang, kala menarik cahayanya yang keemasan dari balik jendela dan celah bawah pintu. Wanita itu datang menggunakan kaos ketat sehingga dadanya yang hampir tak terlihat kelihatan menonjol, aku tak begitu peduli soal dada yang jelas aku menyukai dia seperti aku menyukai sore. Lantas aku bernafsu, mengajaknya bercinta bukan perkara sulit. Kami bercinta seperti anjing, kadang cacing. Ah, macam-macam pokoknya. Sore itu sore yang paling menyenangkan, tentu saja menggairahkan. Mungkin ini sore yang paling aku sukai diantara sore-sore yang aku temui bersamanya. Sekarang senja benar-benar habis. Tak lama pernyataan meletup dari bibir basah wanita itu.
“Bercintalah sepuasnya, hari ini kali terakhir kita bercinta.” katanya berbisik padaku.
Benar-benar sore yang brengsek!!!
-----------------------------------------------------o0o-----------------------------------------------------------